Responsive Banner design

Padang Pengembalaan (Pasture) Ternak

Padang Pengembalaan (Pasture) Ternak

Padang pengembalaan merupakan sumber penyediaan hijauan yang lebih ekonomis dan murah. Padang pengembalaan merupakan tanaman hijauan yang secara langsung bisa dimakan oleh hewan. Padang pengembalaan tersebut bisa terdiri dari rumput seluruhnya atau leguminosa saja atau campuran. Tetapi suatu padang rumput yang baik dan ekonomis ialah yang terdiri atas campuran dari rumput dan leguminosa.
Padang Pengembalaan (Pasture) Ternak

Pasture adalah semua rumput atau tanaman lain untuk dirumput/disenggut oleh hewan: “herbage”. Yang termasuk kelompok ini adalah semua hijauan baik yang dipotong atau tidak dan diberikan segar (Hartadi et.al, 1980). Padang penggembalaan adalah suatu daerah padangan dimana tumbuh tanaman pakan ternak yang tersedia bagi ternak yang dapat merenggutnya menurut kebutuhannya dalam waktu singkat (Reksohadiprodjo, 1994). Padang penggembalaan dapat terdiri atas rumput-rumputan, kacang-kacangan atau campuran keduanya (McIlroy, 1976), dimana fungsi kacang-kacangan dalam padang penggembalaan adalah memberikan nilai makanan yang lebih baik terutama berupa protein, phosphor dan kalium (Reksohadiprodjo, 1994).

Fungsi padang penggembalaan adalah untuk menyediakan bahan makanan bagi hewan yang paling murah, karena hanya membutuhkan tenaga kerja sedikit, sedangkan ternak menyenggut sendiri makanannya di padang penggembalaan. Rumput yang ada didalamnya dapat memperbaiki kesuburan tanah. Hal ini disebabkan pengaruh tanaman rumput pada tanah, rumput yang dimakan oleh ternak dikembalikan ke padang penggembalaan sebagai kotoran yang menyuburkan dan menstabilkan produktivitasnya dari tanah itu sendiri.

Karena padang pengembalaan kegunaannya sangat efisien, maka padang pengembalaan tersebut harus dikelola atau dipiara sebaik mungkin, sehingga hasilnya bisa menyediakan makanan secara optimal sepanjang waktu.

Cara pengelolaan padang pengembalaan (pasture) ternak:

1. Pemotongan tahun-tahun pertama

2. Pemotongan bergilir (alternate grazing) atau sistem rotasi

3. Pengembalaan berat (over grazing) harus dihindarkan

4. Defoliasi yang terlalu ringan (under-grazing) pun harus dihindarkan.

Tipe Padang Penggembalaan
Padang penggembalaan dapat diklasifikasikan menjadi empat golongan utama, yaitu: Padang Penggembalaan Alam, Padang Penggembalaan Permanen yang sudah diperbaiki, Padang Penggembalaan Buatan (Temporer), dan Padang Penggembalaan dengan Irigasi. 

Sumber Bacaan;

Aak. 2012. Hijauan Makan Ternak Potong, Kerja dan Perah. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Hartadi, H., S. Reksodiprodjo dan A.D. Tillman. 1980. Tabel Komposisi Bahan Makanan Ternak Untuk Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Mc Ilroy, R. J. 1976. Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika. Pradnya Paramita. Jakarta.

Reksohadiprojo, S. 1994. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik. BFFE. Yogyakarta.

Bahan Pakan Ternak Berdasarkan Spesifikasinya


Penggolongan Bahan Pakan Berdasarkan Spesifikasinya

Spesifikasi bahan pakan dibedakan menjadi tujuh kelompok yang masing-masing mempunyai batas maksimal dalam penggunaannya dan akan mempengaruhi rasa, warna, bau, dan tingkat toksikasi, ketujuh kelompok tersebut  adalah sebagai berikut:

1. Kelompok Biji--Bijian
Ciri khusus yang dimiliki kelompok ini yaitu mengandung karbohidrat dengan konsentrat tinggi, sedangkan kandungan protein, serat kasar, vitamin dan mineralnya rendah. Contoh bahan pakan yang termasuk dalam kelompok ini yaitu jagung, gandum, sorgum, dan sejenis padi-padian.

2. Kelompok Hasil Sampingan Biji-Bijian
Kelompok ini adalah hasil buangan atau by product dari kelompok biji – bijian, juga mengandung karbohidrat yang tinggi. Contoh bahan pakan yang termasuk jenis ini adalah dedak padi/bekatul/lunteh, dedak gandum dan pollard.

3. Kelompok Biji-Bijian Sumber Minyak
Kelompok ini selain mengandung energi yang cukup tinggi juga sebagai sumber protein, lemak dan minyak. Penggunaannya sebagai bahan pakan unggas sangat bersaing dengan penggunaan sebagai bahan pakan untuk manusia. Yang termasuk dalam kelompok bahan pakan ini adalah kacang tanah, wijen, kacang kedelai.

Bahan Pakan Ternak, Ransum, dan Konsentrat


Bahan Pakan Ternak, Ransum, dan Konsentrat
Bahan Pakan Ternak, Ransum, dan Konsentrat - Bahan pakan (bahan makanan ternak) adalah segala sesuatu yang dapat diberikan kepada ternak (baik berupa bahan organik maupun anorganik) yang sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganggu kesehatan ternak. Pada umumnya pengertian pakan (feed) digunakan untuk hewan yang meliputi kuantitatif, kualitatif, kontinuitas serta keseimbangan zat pakan yang terkandung di dalamnya.

Ransum adalah pakan jadi yang siap diberikan pada ternak yang disusun dari berbagai jenis bahan pakan yang sudah dihitung (dikalkulasi) sebelumnya berdasarkan kebutuhan industri dan energi yang diperlukan. Ransum harus dapat memenuhi zat-zat makanan yang dibutuhkan seekor ternak untuk berbagai fungsi tubuhnya, seperti hidup pokok, produksi, maupun reproduksi.

Ransum yaitu pakan yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan ternak selama 24 jam. Ransum ternak unggas dan ruminansia sangat berbeda, disebabkan karena perbedaan dalam sistem pencernaannya.

Konsentrat adalah campuran dari beberapa bahan pakan untuk melengkapi kekurangan gizi dari hijauan makanan ternak. Terdiri dari bahan pakan dengan kandungan serat kasar rendah dan mudah dicerna berasal dari biji-bijian, hasil ikutan/limbah pertanian dari pabrik pengolahan hasil pertanian dan bahan berasal dari hewan seperti tepung ikan, tepung darah dan lain-lain. 

Konsentrat merupakan makanan ternak penguat yang kaya karbohidrat dan protein seperti jagung, bekatul, dan bungkil-bungkilan. Pakan konsentrat bisa dibeli dalam bentuk bahan makanan misalnya dedak, bekatul, jagung, dll. Konsentrat digunakan terutama pada saat pertumbuhan, pada masa kebuntingan maupun saat menyusui induknya.

Penyakit Saluran Pencernaan Unggas


Penyakit Saluran Pencernaan Unggas

1. Tipus unggas / Fowl thypoid (Berak Hijau)

Penyebab        : Bakteri  Salmonella gallinarum
Gejala klinis  :
Diare hijau
Hati membengkak pucat, limpa dan ginjal membesar, diikuti pendarahan
Kantong empedu meregang, peradangan pada duodenum
Kematian dapat mencapai 50%
Penularan       :
Feses, bangkai, peralatan dan pegawia kandang
Bisa menyerang ayam dewasa
Pengobatan  :  
Preparat sulfa, tetrasiklin atau furazolidone, namun tidak efektif
Pencegahan  :  
Memusnahkan  ternak terinfeksi melalui test darah
Vaksinansi jarang dilakukan

2. Pullorum (Berak Kapur)

Penyebab        : Bakteri  Salmonella pullorum
Gejala  :
Feses berwarna putih kapur, pantat kotor dan  bulu lengket
Kematian jaringan jantung, hati dan paru-paru
Caecum membengkak berisi  material mengkeju
Pengecilan dan pengerutan indung telur
Penularan       :
Melalui induk terinfeksi kepada telur
Melalui telur yang baru menetas   mesin tetas (egg borne disease)
Pengobatan  :  
Tidak efektif paada ayam petelur, hanya dilakukan pada ayam broiler dengan pemberian preparat sulfa dan antibiotik
Pencegahan  :  
Melakukan test pullorum secara berkala
Mengeluarkan induk terinfeksi sehingga peternakan bebas pullorum

3. Coccidiosis (Berak Darah)

Penyebab        : Protozoa (Eimeria accervuline, Eimeria necatrix, Eimeria tenella, Eimeria maxima, Eimeria brumetti
1. Caecal coccidiosis  caecum : Eimeria tenella
Gejala :
Menyerang ayam sampai umur 12 minggu
Ayam tmapak lesu, nafsu makan turun
Jengger pucat, feses berdarah
2. Small intestinal coccidiosis  usus halus : Eimeria accervuline, Eimeria necatrix,
      Eimeria maxima, Eimeria brumetti 
“Menyerang ayam semua umur”

Gejala :
Hampir sama dengan caecal coccidiosis
BB turun, produksi telur turun
Penularan : feses terkontaminasi yang mengandung oocyst
Pengobatan  :   Coccidiocil agent ???
Pencegahan  :  
Penambahan coccidiostat ke dalam ransum
Litter diusahakan selalu bersih dan kering

4. New Castle Disease (ND)

Penyebab        : Paramyxovirus
Penularan       :
Melalui feses terinfeksi atau pernafasan
Melalui  peralatan, pegawai kandang dan burung liar

Ada 3 tipe gejala  :
Gejala pernafasan : radang trakhea, sulit bernafas
Gejala syaraf : kelumpuhan dan tortikoli
Gejala pencernaan : peradangan dan pendarahan di proventriculus intestin
Kerabang tipis, kadang tanpa kerabang
Mortalitas mencapai 100%n indung telur
Pengobatan  :  Belum ada
Pencegahan  :  Vaksinasi

5. Fowl Cholera  (Kolera Unggas)

Penyebab        : Bakteri  Pasteurella cholera gallinarum
Gejala  :
Peradangan selaput lendir mata disertai keluar kotoran
Daerah muka, pial dan tulang membesar
Feses sangat encer kadang berwarna kekuningan
Hati membengkak berwarna gelap
Sendi kaki dan sayap bengkak, ayam jalan sempoyongan hingga lumpuh
Penularan       :
Pencemaran pakan/air minum oleh lendir ayam sakit
Kandang yang terlalu padat, kedinginan, sanitasi jelek
Pengobatan  :  
Antibiotik strptomicin, termicin atau sulfa
Pencegahan  :  
Vaksinasi pada umur 6 – 8 minggu

6. Kolibasilosis

Penyebab        : Bakteri  Escherchia coli
Gejala  :
Diare, bulunya kotor disekitar pantat
Radang kantong udara, perikarditis, perihepatitis
Getah fibrin menutupi sebagian besar hati
Penularan       :
Lingkunan kandang yang basah dan kotor
Pengobatan  :  
Antibiotik
Pencegahan  :  
Melalui sanitasi perbaikan lingkungan, pakan dan air

7. Gumboro (Infectious Bursal Disease)

Penyebab        : Virus
Gejala  :
Bulu kusam dan diare belendir mengotori pantat
Angka kematian 5- 80% , angka kesakitan 100%
Bursa fabricus membengkak, getah melebihi normal/mengkeju, bentuknya membulat dan berwarna kuning sampai merah/mendarah
Oot paha dan dada mendara, ginjal bengkak

Pencegahan  :  
Melalui vaksinansi

Penyakit Saluran Pernafasan Unggas


Penyakit Saluran Pernafasan Unggas

1. Chronic Respiration Disease (CRD)

Penyebab        : Bakteri Mycoplasma gallisepticum
Gejala klinis  :
Gangguan pernafasan/ngorok, bersin dan kepala tertunduk atau dikibas-kibaskan
Keluar cairan/getah dari hidung dan cairan berbusa dari mata
Nafsu makan turun  BB turun/kerdil
Produksi telur turun 20 – 30 %
Penularan       :
Melalui telur tetas/anak ayam
Kontak langsung dengan ayam sakit
Pengobatan  :
Antibiotik Erithromisin, tilosin  Aplikasi : injeksi, air minum/pakan

2. Infectious Bronchitis (IB)

Penyebab        : Corona virus
Gejala klinis  :
Sesak nafas eksudat seperti keju dalam percabangan bronchi
Kematian jarang pada ayam dewasa
Produksi  telur  turun hingga 0%, jarang bisa berproduksi normal kembali
Bentuk telur abnormal
Penularan       : Melalui  sirkulasi udara
Pengobatan  :
Tidak ada
Mencegah infeksi sekunder dengan antibiotik
Pencegahan :
Vaksinansi paling efektif

3. Infectious Laryngo Traceitis (ILT)

Penyebab        : Virus dari grup herpes
Gejala klinis  :
Gejala pertama   mata berair
Sulit bernafas, batuk dan bersin  malas bergerak
Pembentukan eksudat  pada trachea dan larynx
Lapisan trachea mengelupas
Mortalitas 1% per hari  keadaan parah
Produksi  telur  turun 10 - 50%, kembali normal setelah 3 – 4 mgg
Penyebaran lebih lambat dari pada IB
Penularan       :
Melalui  udara / pernafasan
Pakaian pengunjung, peralatan terinfeksi
Pengobatan  :
Untuk pencegahan dilakukan

4. Infectious  Coryza (Snot)

Penyebab        : Bakteri  Hemophilus paragalinarum
Gejala kilinis  :
Muka membengkak
Peradangan pada mata dan hidung, berbau busuk
Radang conjunctive (conjunctivitis)
Konsumsi ransum air minum menurun dan BB turun/kerdil
Produksi telur turun
Kematian bervariasi, pada umumnya rendah
Penularan       :
Kontak langsung
Melalui udara dan peralatan
Melalui air minum dan pegawai kandang
Pengobatan  :  Antibiotik
Pencegahan  :  Vaksinansi hanya di daerah endemik

5. Avian Influenza (AI)

Penyebab        : Myxovirus
Gejala :
Kematian mendadak  dalam jumlah banyak
Jengger dan pial berwarna ungu kebiruan (sianosis)
Kadang-kadang keluar cairan dari mata dan hidung
Muka dan kepala mengalami pembengkakan
Terjadi pendarahan di bawah kulit
Terdapat bintik-bintik perdarahan  pada dada, kaki dan telapak kaki
Otot dada berwarna ungu kebiruan
Diare cair
Pada ayam petelur, bedah bangkai memperlihatkan bakal telur yang menyerupai bubur dan berdarah
Penularan       :
Melalui udara / pernafasan
Melalui  feses
Peralatan dan pegawai kandang
Pengobatan  : 
Belum ada
Pemberian antibitik dapat mengurangi infeksi sekunder
Pencegahan  :  Vaksinansi

Empat Spesies Ayam

Empat Spesies Ayam


1. Gallus gallus (Red Jungel Fowl)
      Ciri-ciri :
Bulu utama pada ekor 14 helai
Jengger tunggal bergerigi, pial dua buah
Badan relatif kecil
Jantan : bulu leher; sayap dan punggung merah
         : bulu dada dan badan bagian bawah hitam
Betina : bulu berwarna cokelat dan bergaris hitam
Telur kecil berwarna merah kekuningan
Jumlah telur  per clutch sedikit
Penyebaran : China, India, Asia Tenggara
G g bankiva (Java Red Jungel Fowl) : Sumatera, Jawa, Bali
G g spadecius (Burmese Red Jungel Fowl) : China Selatan, Burma, Thailand, semenanjung Malaysia, Sumatera bagian Utara
G g gallus (Conchin-Chinesse atau Indochina Red Jungel Fowl) : Thailand Timur, Kamboja, Laos Tengah, Laos Selatan dan Vietnam bagian Selatan)
G g jabouille (Tonkinese Red Jungel Fowl) : China bagian Selatan dan Vietnam bagian Utara 
Red Jungle Fowl juga menyebar di Filiphina (G g philippenisis), Micronesia (G g micronesia), Melanesia dan Polynesia (G g gallina)

2. Gallus varius (Green Jungel Fowl)
Gallus varius (Green Jungel Fowl) : Jawa, bali, Lombok, Sumbawa, Flores dan pulau-pulau kecil disekitarnya.
      Ciri-ciri :
Bulu utama pada ekor 16 helai
Jengger tunggal licin tidak bergerigi
Badan relatif kecil
Jantan : bulu leherpendek-pendek berbentuk bulat
Warna bulu hitam dengan lapisan warna hijau pada permukaannya, di Jawa Barat disebut kasintu /cangehgar

3. Gallus lafayetii (Ceylonese/Srilanka Jungel Fowl)
Gallus lafayetii (Ceylonese/Srilanka Jungel Fowl) : Srilanka
      Ciri-ciri :
Mirip Gallus gallus kecuali bulu bagian dada dan badan bagian bawah berwarna jingga, bagian tengah jengger berwarna kuning
Kerabang telur berbintik-bintik

4. Gallus sonneretii (Grey Jungel Fowl)
Gallus sonneretii (Grey Jungel Fowl) : India bagian Selatan dan Barat
      Ciri-ciri :
Mirip Gallus gallus  dengan aspek warna bulu keabu-abuan
Kerabang telur kadang-kadang berbintik-bintik

Catatan :
G g, gg = Gallus gallus

Taksonomi Unggas


Taksonomi Unggas

Sistem Klasifikasi Ternak Unggas

Kingdom :  Animalia 
Phylum :  Chordata
Sub Phylum :  Vertebrata
Class :  Aves 
Ordo :  Galliformes
Family :  Phasianidae
Genus :  Gallus
Spesies :  Gallus gallus (Linnaeus, 1758)
       Sub Spesies :  Gallus gallus gallus   (Linnaeus, 1758)
:  Gallus gallus spadiceus (Bonnaterre, 1792)
:  Gallus gallus bankiva (Temminck, 1813)
:  Gallus gallus murghi   (Robinson & Kloss, 1920)
:  Gallus gallus jabouille (Delacour & kinnear, 1928)
:  Gallus gallus domesticus (Linnaeus, 1758)
:  Gallus gallus gallus (Linnaeus, 1758)
Spesies :  Gallus varius (Shaw, 1798)
:  Gallus sonneratii (Temminck, 1813)

Teori Asal-usul Terbentuknya Bangsa Ayam Modern
1. Teori Monophyletic (Charles Darwin, 1868),  nenek moyang : Gallus gallus (Red Jungel Fowl)
      Alasan :
Mudah dikawinkan secara bebas dengan bangsa-bangsa ayam yang ada sekarang, sedangkan 3 spesies lainnya sangat sulit.
F1 hasil persilangan Gallus gallus  dengan bangsa ayam yang ada sekarang biasanya fertile, sedangkan yang lain steril
Ciri-ciri ayam Brown Leghorn, Black Breasted dan red Games terutama warna bulu mirip dengan Gallus gallus
Hasil perkawinan bangsa-bangsa ayam yang telah didomestikasi sewaktu-waktu memperlihatkan ciri yang mirip dengan Gallus gallus

2. Teori Polyphyletic
Mengemukakan dua kemungkinan
nenek moyang : dua atau lebih dari keempat spesies yang ada sekarang
nenek moyang : lebih dari empat spesies yang ada sekarang
      Alasan :
Bangsa-bangsa yang terbentuk dalam kelas Mediteranian mungkin diturunkan oleh sekurang-kurangnya dua spesies dari keempat spesies yang ada
Bangsa-bangsa yang terbentuk dari kelas Asia kemungkinan diturunkan oleh nenek moyang dari jenis yang telah musnah
Alasan tersebut dikemukakan berdasarkan adanya perbedaan prinsipil antarra bangsa-bangsa ayam dari kelas Mediteranian dengan bangsa-bangsa ayam dari kelas Asia

Kemampuan Ternak Ruminansia Mengubah Protein Berkualitas Rendah Menjadi Protein Kelas Tinggi

Kutukuliah-Ternak Ruminansi mampu Mengubah Pakan yang Berkualitas Rendah menjadi Pakan yang Berkualitas Tinggi dengan adanya Mikroorganisme dalam Rumennya

 

Kemampuan Rumen Ternak Ruminansia
Ternak Ruminansia
Kutu kuliah-Kumpulan Tugas Kuliah, kembali kami akan share kepada Anda beberapa informasi yang semoga dapat menambah pengetahuan Anda tentang dunia peternakan, atau realitas yang Anda lihat pada saat Anda memperhatikan dan mengamati tingkah laku ternak. Kutu kuliah juga tidak hanya punya maksud share tugas-tugas kuliah, atau makalah kuliah kepada Anda, tetapi jauh daripada itu semoga banyak terjadi transfer pengetahuan melalui blog ini. Itu harapannya....!


Tugas kuliah, kali ini saya akan share kepada Anda mengenai kemampuan ternak ruminansia. Salah satu penggolongan dalam dunia peternakan kepada ternak yang memiliki rumen atau dalam ternak yang memiliki 4 ruang lambung. Ternak yang mempunyai kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT (Tuhan kita semua) kepada manusia agar diambil banyak manfaat di dalamnya. 
Tugas kuliah, nah ternyata ada beberapa fakta yang dapat Anda ketahui mengapa ternak ruminansia mampu mengubah pakan yang mempunyai kandungan protein yang rendah menjadi protein yang tinggi. Dalam tugas kuliah yang saya share nantinya, semoga dapat menjawab pertanyaan Anda. Jadi, silahkan menyimak tugas kuliah berikut. 

 
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pencernaan adalah rangkaian proses perubahan fisik dan kimia yang dialami bahan makanan selama berada di dalam alat pencernaan. Saluran pencernaan memberi tubuh persediaan air, elektrolit, dan makanan yang terus-menerus. Sapi adalah ternak ruminansia yang mempunyai 4 kompartemen perut yaitu rumen, retilkulum, omasum, dan abomasum.

Ruminansia mempunyai kemampuan yang unik yakni mampu mengkonversi pakan dengan nilai gizi rendah menjadi pangan berkualitas tinggi. Proses konversi ini disebabkan oleh adanya proses Microbial fermentation atau fermentasi microbial yang terjadi dalam rumen. Proses ini mengekstraksi zat makanan dari pakan menjadi pangan tersebut melalui berbagai proses metabolisme yang dilakukan oleh mikroorganisme. Ruminansia mensintesis asam-asam amino dari zat-zat yang mengandung nitrogen yang lebih sederhana melalui kerja mikroorganisme dalam rumen. Mikroba rumen mempunyai kemampuan mengubah protein pakan yang berkualitas rendah dan non-protein nitrogen (NPN) menjadi protein penyusun tubuh mikroba yang mempunyai komposisi asam amino ideal. Hal inilah yang melatarbelakangi sehingga makalah ini dibuat agar kita dapat mengetahui bagaimana proses sistem pencernaan pada ruminansia yang dapat mengubah protein berkualitas rendah menjadi protein yang berkualitas tinggi.
BAB II
PEMBAHASAN

Sistem pencernaan ruminansia pada ternak ruminansia relatif lebih kompleks dibandingkan proses pencernaan pada jenis ternak lainnya. Perut ternak ruminansia dibagi menjadi 4 bagian, yaitu retikulum (perut jala), rumen (perut beludru), omasum (perut bulu), dan abomasum (perut sejati). Dalam studi fisiologi ternak ruminansia, rumen dan retikulum sering dipandang sebagai organ tunggal dengan sebutan retikulo-rumen. Omasum disebut sebagai perut buku karena tersusun dari lipatan sebanyak sekitar 100 lembar. Fungsi omasum belum terungkap dengan jelas, tetapi pada organ tersebut terjadi penyerapan air, amonia, asam lemak terbang dan elektrolit. Pada organ ini dilaporkan juga menghasilkan amonia dan mungkin asam lemak terbang. Termasuk organ pencernaan bagian belakang lambung adalah sekum, kolon dan rektum. Pada pencernaan bagian belakang tersebut juga terjadi aktivitas fermentasi. Proses pencernaan pada ternak ruminansia dapat terjadi secara mekanis di mulut, fermentatif oleh mikroba rumen dan secara hidrolis oleh enzim-enzim pencernaan (Anonima, 2010).
  ............................................................................................................... (masih ada lanjutannya)
BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
            Ruminansia dapat mengubah protein berkualitas rendah menjadi protein berkualitas tinggi dengan adanya mikroorganisme yang terdapat di dalam rumen. Mikroba rumen mempunyai kemampuan mengubah protein pakan yang berkualitas rendah dan non-protein nitrogen (NPN) menjadi protein penyusun tubuh mikroba yang mempunyai komposisi asam amino ideal. Mikroba rumen yang mati hanyut bersama digesta masuk ke dalam usus halus dan oleh ternak digunakan sebagai sumber protein yang berkualitas tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Anonima. 2010. Sistem Pencernaan Ruminansia. http://file.upi.edu/Direktori/D%20-%20FPMIPA/JUR.%20PEND.%20BIOLOGI/197003311997022%20%20HERNAWATI/FILE%2013.pdf. Diakses pada tanggal 19 September 2010.
Anonimb. 2010. Sistem Pencernaan Sapi Potong.  www. produksi potong\119-sapi-potong.html. Diakses pada tanggal 3 September 2010.

Anonimc. 2010. Proses Pencernaan pada Ruminansia. http://usupress.usu.ac.id/files/Pengantar%20Ruminologi%20-%20Final_bab%201.pdf. Diakses pada tanggal 19 September 2010.
Anonimd. 2010. Pakan Ternak Ruminansia.    
http://www.scribd.com/doc/32656127/Sekilas-Tentang-Pakan-Dan-Ternak-Ruminansia. Diakses pada tanggal 19 September 2010.

Anonime.. 2010. Peranan Nutrisi pada Reproduksi Ternak.
  http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/09145/satya_gunawan.pdf. Diakses pada tanggal 19 September 2010.

Rianto, E dan Purbowati, E. 2009. Sapi Potong. Jakarta, Penebar Swadaya.





Tugas kuliah, nah seperti biasa. Kami memotong tugas kuliah ini. Belum tahu alasannya, klik di sini untuk membacanya. Untuk  mendapatkan lengkapnya pembahasan kami mengenai permasalahan ini, Anda dapat mendownload tugas di atas dengan cara, mengklik link download gambar di bawah ini :
download-tugas-kemampuan-ternak-ruminansia
Tugas Kuliah, file di atas saya Winrar. Jadi, harus dulu dilakukan proses pengekstrackan. Anda belum memiliki aplikasi Winrar di Laptop/PC/Notebook Anda. Silahkan download Winrar melalui link ini.

Kutu kuliah, Belum tahu, struktur makalah yang baik, coba baca di sini :
2. Makalah-makalah atau tugas Kuliah Rekomendasi buat Anda... :
Mohon Perhatian

Terima kasih atas kunjungan Anda di kutu kuliah. Hubungi kami jika Anda menemukan konten/postingan
yang rusak/tidak terbaca. Silahkan beritahu kami dengan menulis pesan
pada kotak komentar. Kami akan berusaha menanggapi dan memperbaiki konten
tersebut secepatnya. Saran, kritik, dan komentar Anda sangat berharga buat kami. Terima Kasih, Contact on : kutukuliah@gmail.com.

Popular Posts

Powered by Blogger.