Responsive Banner design

Thermoregulasi Hewan Ternak

Thermoregulasi Hewan Ternak

Thermoregulasi Hewan Ternak
Thermoregulasi merupakan hewan yang suhu tubuhnya dipengaruhi oleh suhu lingkungannya. Perolehan panas tubuh pada hewan eksoterm tergantung pada berbagai sumber panas di lingkungan luar. Masalah yang dihadapi hewan eksoterm tidak sama, tetapi tergantung pada jenis habitatnya. Seperti thermoregulasi pada eksoterm aquatik, suhu pada lingkungan aquatik relatif stabil sehingga hewan yang hidup didalamnya tidak mengalami adanya permasalahan suhu lingkungan myang rumit. Dalam lingkungan aquatik, hewan tidak mungkin melepaskan panas tubuh dengan cara evaporasi. Pelepasan panas melalui dalam tubuh hewan ekstoterm (ikan) terutama terjadi melalui insang.

Thermoregulasi pada hewan endoterm merupakan hewan yang panas tubuhnya berasal dari dalam tubuhnya, sebagai hasil dari metabolisme tubuh . Suhu tubuh hewan endoterm termasuk didalamnya, yaitu burung (aves) dan juga mamalia, sedangkan hewan lainnya termasuk sebagai hewan ekstoterm. Akan tetapi, kenyataannya yang ada menunjukkan bahwa ikan tuna juga dapat mempertahankan suhu tubuhnya pada tingkat tertentu. Adapun cara-cara yang dilakukan oleh hewan endoterm dalam melawan suhu yang sangat panas adalah meningkatkan pelepasan panas tubuh dengan meningkatkan penguapan, baik melalui proses berekeringat atau terengah-engah. Melakukan gular gluttering yaitu suatu proses menggerakkan daerah kerongkongan secara cepat dan terus menerus sehingga penguapan melalui saluran pernafasan (dan mulut) dapat meningkat, dan akibatnya pelepasan panas tubuh juga meningkat, menggunakan strategi hipertermik, yaitu suatu proses mempertahankan atau menyimpan kelebihan panas metabolik di dalam ukuran tubuh sehingga suhu tubuh dapat meningkat sangat tinggi.

Pembentukan panas pada akhirnya bergantung pada oksidasi bahan bakar metabolik yang berasal dari makanan. Karena fungsi sel peka terhadap fluktuasi suhu internal, manusia secara hemostasis mempertahankan suhu tubuh pada tingkat yang optimal bagi kelangsungan metabolisme sel yang dibawah sinar matahari, maka di dalam tubuh akan menjadi lebih hangat. Apabila menyentuh sesuatu yang suhunya 37 derajat C (Suhu tubuh kita) maka akan terasa hangat karena kulit lebih dingin dari pada suhu benda tersebut. Walaupun terdapat sebuah variasi pada beberapa bagian tubuh kita, akan tetapi dari waktu ke waktu variasi ini sangat kecil. Sistem diatur oleh suatu thermostat (suatu bagian dari otak). Sel reseptor tertentu ldalam struktur ini akan memonitor suhu darah dalam otak (bukan darah dalam kulit). Bila darah terlalu panas maka hipothalamus akan menilai suatu rantai untuk menurunkan suhu tubuh. Manusia dan hewan berukuran besar pada umumnya akan memulai berkeringat. Seperti misalnya anjing akan melewatkan udara melalui lidahnya dengan cara terengah-engah (panting) dan kucing akan menjilat tubuhnya sehingga evaporasi cairan akan dapat mendinginkan tubuh. Biasanya manusia berada di lingkungan yang suhunya lebih dingin daripada suhu tubuh mereka, sehingga ia harus terus menerus menghasilkan panas secara internal untuk terus dapat mempertahankan suhu tubuhnya.

Hemotherm merupakan hewan berdarah panas. Hewan yang tergolong di dalamnya adalah kelas aves dan mamalia. Panas terutama diperoleh dari reaksi metabolisme di dalam sel yang menghasilkan energi. Karena panas berasal dari dalam keluar (berlawanan dengan kadal yang berjamur baik untuk kita ini adalah burung dan mamalia kutub. Burung dan mamalia kutub mempunyai suhu tubuh pusat terbesar 39 derajat C, namun suhu kakinya hanya sekitar 3 derajat C. Pengaturan panas atas thermoregulasi pada hewan ekstoterm, dimana pada ekstoterm terutama pada karakteristik ditentukan oleh karakteristik fisik lingkungannya. Jadi, tingkah lakunya adalah merupakan salah satu faktor yang utama dalam memelihara temperatur tubuh secara konstan dan tetap. 

Secara fisiologis kaki tetap berfungsi dalam keadaan normal. Jadi sistem saraf kaki tetap berfungsi dalam keadaan baik, berarti hewan tersebut telah beradaptasi pada tingkat sel dan tingkat molekul. Selanjutnya yaitu dengan jalan hibernasi atau torpor, yaitu penurunan suhu tubuh yang berkaitan dengan adanya penurunan laju metabolisme, laju denyut jantung, laju respirasi dan sebagainya. Periode hipernasi bervariasi mulai dari beberapa jam hingga beberapa minggu bahkan beberapa bulan. Berakhirnya hibernasi dicapai dengan kebangkitan spontan yaitu melalui peningkatan laju metabolisme dan suhu tubuh secara cepat yang akan segera mengembalikkan ke dalam keadaan normal.

Sebagian besar orang akan mengalami kejang apabila suhu tubuh internal mencapai sekitar 41 derajat C dianggap sebagai batas atas masih memungkinkan kehidupan. Dipihak lain, sebagian besar jarinagn tubuh dapat menahan pendinginan yang substansional dan sifat ini bermanfaat pada bedah jantung saat jantung harus dihentiksn. Jaringan yang mengalami pendiginan memerlukan makanan lebih sedikit dibandingkan saat berada pada suhu tubuh normal karena menurunkan aktivitas metabolisame. Penurunan kebutuhan oksigen jaringan yang mengalami pendinginan, juga kadang-kadang berperan dalam air salju dalam waktu yang bersifat relatif lebih lama daripada waktu seseorang bertahan hidup tanpa oksigen. Suhu tubuh manusia erat kaitannya antara kerja sama sistem saraf baik otonom, sometik dan endokrin. Sehingga ketika membahas mengenai pengaturan suhu oleh sistem saraf maka tidak lepas pula kaitannya dengan kerja sistem endokrin terhadap mekanisme pengaturan suhu tubuh seperti TSH dan FSH. Adapun cara beradaptasi hewan endoterm terhadap suhu ekstrim yaitu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu eksterm panas dan ekstrm dingin. Cara-cara yang dapat dilakukan antara lain adalah dengan cara masuk ke dalam kondisi heterothermi, yaitu mempertahankan adanya perbedaan suhu diantara berbagai bagian tubuh. Contoh yang stabil. Bahkan peningkatan suhu tubuh sedikit saja sudah dapat menimbulkan gangguan fungsi saraf dan denaturasi protein irreversibel.

Tidak semua energi di dalam molekul nutrisi dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan pekerjaan biologis. Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, tetapi dapat diubah dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Energi di dalam sel molekul nutrisi yang tidak digunakan untuk bekerja ditransformasikan menjadi energi termal atau panas. Selama pengolahan biokimia, hanya sekitar separuh dari energi di dalam molekul nutrisi lainnya segera hilang sebagai panas. Selama pemakaian ATP oleh sel, 25% energi lain yang di dapat dari makanan yang dimakan menjadi panas. Karena bukan merupakan mesin uap yang tidak mengubah panas menjadi kerja, baik eksternal maupun internal. Oleh karena itu, tidak lebioh dari 25% energi nutrisi yang tersedia untuk melaksanakan kerja, sementara itu 75% energi nutrisis sisanya hilang sebagai panas selama perpindahan berurutan energi dari molekul nutrisi ke ATP ke sistem sel.

Pengeluaran energi atau pemakaian energi dibagi menjadi dua kategori yaitu kerja eksternal dan kerja internal. Kerja eksternal mengacu pada energi yang digunakan sewaktu otot rangka berkontraksi untuk memindahkan objek eksternal atau untuk menggerakkan tubuh dalam hubungannya dengan lingkungan eksternal. Kerja enternal merupakan semua bentuk lain dari pengeluaran energi biologis yang tidak menyelesaikan kerja mekanis di luar tubuh .

Beradasarkan kemampuan untuk mempertahankan suhu tubuh, hewan dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu poikiloterm dan hemeoterm. Hewan poikiloterm adalah hewan yang suhu tubuhnya selalu berubah seiring dengan berubahnya suhu lingkungan. Sementara hewan homeoterm adalah hewan yang suhu tubuhnya selalu konstan sekalipun suhu lingkungannya berubah. Menurut konsep kuno, hewan poikiloterm sama dengan hewan berdarah dingin, sedangkan homeoterm sama dengan hewan berdarah panas. Kadal adalah contoh hewan poikiloterm, sementara mamalia adalah hewan hemoterm. Suhu tubuh hewan homeoterm. Akan tetapi, pada saat tertentu ketika suhu lingkungan di gurun mencapai 500C, suhu tubuh kadal dapat menjadi lebih tinggi daripada mamalia gurun. Dalam contoh tersebut sangat jelas bahwsa hewan berdarah dingin sama sekali tidak tepat. 

Hewan poikiloterm juga dapat disebut sebagai ekstoterm karena suhu tubuhnya ditentukan dan dapat dipengaruhi oleh suhu lingkungannya. Sementara hemeoterm dapat disebut sebagai endoterm karena suhu tubuhnya dapat diatur oleh produksi panas yang terjadi dalam tubuh. Sekalipun demikian, kita dapat menentukan adanya beberapa faktor atau pengecualian, misalnya pada insecta. Sebenarnya, insecta dikelompokkan sebagai hewan eksoterm tatapi ternyata ada beberapa faktor pada insecta misalnya, lalat yang dapat menghasilkan tambahan panas tubuh dengan melakukan kontraksi otot. Dengan alasan tubuh tersebut, lalat dikatakan bersifat endotermik sebagian. Hewan mengalami pertukaran panas dengan lingkungan disekitar atau dapat dikatakan berinteraksi panas. Interaksi panas tersebut menguntungkan ataupun merugikan sekalipun demikian hewan ternyata dapat memperoleh manfaat yang besar dari peristiwa pertukaran panas ini. Interaksi panas tersebut ternyata dimanfaatkan oleh hewan sebagai cara untuk mengatur suhu tubuh mereka, yaitu untuk meningkatkan dan menurunkan pelepasan panas dari tubuh, atau sebaliknya untuk memperoleh panas. Interaksi atau pertukaran panas antara hewan dan lingkungannya dapat terjadi melalui empat cara yaitu konduksi, konveksi, radiasi dan evaporasi.

Nilai Hematokrit Darah

Nilai Hematokrit Darah

Nilai Hematokrit Darah
Hematokrit adalah persentase tingginya eritrosit dalam plasma yang ditentukan setelah darah disentrifunge dalam suatu tabung. Nilai normal pada pria 36-48%, wanita 36-45%, dan anak-anak 38-70%. Pada orang yang bermukim di gunung, nilainya bisa naik sampai 45-55%, juga pada pecandu alkohol dan pasien tumor ginjal tertentu (akibat produksi EPO berlebihan). Nilai lebih rendah dari nilai normal ditemukan pada pasien anemia dan gangguan ginjal tertentu, juga pada wanita hamil. Hematocrit pada pagi hari bernilai 5% lebih ringan daripada siang hari, maka penggontrolan para peserta hari. Nilai hematokrit tidak boleh melebihi 50% .
Nilai hematokrit adalah persentase volume endapan eritrosit setelah sampel darah dipindahkan dalam waktu dan kecepatan tertentu. Nilai hematokrit pada mikro-capilary untuk putra lebih besar dari nilai hematokrit pada putri begitu pula dengan mikro-hematokrit. Hal ini dapat disebabkan oleh tingkat aktivitas yang dilakukan oleh individu, jenis kelamin dan jumlah sel darah merah. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai hematokrit adalah jenis kelamin, jumlah sel darah merah, aktivitas dan keadaan fisiologis.

Nilai hematokrit atau volume sel packed adalah suatu istilah yang artinya persentase (berdasarkan volume) dari darah yang terdiri dari sel-sel darah merah. Penentuan nilai hematokrit dilakukan dengan mengisi tabung hematokrit dengan darah yang diberi zat agar tidak menggumpal, kemudian dilakukan sentrifusi sampai sel-sel menggumpal di bagian dasar. Nilai hematokritnya kemudian dapat diketahui secara langsung ataupun secara tak langsung dari tabung itu. Jika seseorang mempunyai nilai hematokrit 40 artinya 40% dari volume darah adalah sel-sel darah. Rataan hematokrit laki-laki normal 42, sementara pada wanita normal 38. Nilai hematoktrit pada domba adalah 32, anjing 45, sapi 40, dan pada kuda dan babi 42. Nilai hematokrit biasanya dianggap sama manfaatnya dengan hitungan sel darah merah total dan pelaksanaannya juga jauh lebih muda. Faktor yang mempengaruhi nilai hematokrit adalah apakah orang itu menderita anemia atau tidak, tingkat aktivitas tubuh dan ketinggian tempat dimana orang itu tinggal. Nilai hematokrit normal pada laki-laki adalah 40-50%, sedangkan pada wanita adalah 35-45%. 

Protein plasma terdiri dari dua keadaan utama yaitu albumin dan globulin. Fraksi globulin dapat dibagi menjadi alfa, beta, dan gamma globulin, alfa dan beta globulin disintesis dalam hati, gamma globulin disintesis oleh sel plasma dan limfosit pada saat sel-sel ini dirangsang oleh antigen. Umumnya antibody yang telah diketahui termasuk dalam fraksi gamma globulin, albumen adalah protein yang paling melimpah di dalam plasma yang merupakan protein utama yang dihasilkan oleh hati. Albumen berperan penting di dalam pengikat dan transport berbagai zat di dalam darah dan bertanggung jawab pada sekitar 80% tekanan osmotic potensial dari plasma.

Plasma darah dapat diperoleh dengan cara, darah yang telah dimasukkan ke dalam pipa kapiler yang telah ditambahkan antikoagulan dimasukkan ke dalam Mikro-centrifuge selama 1 menit, setelah 1 menit darah yang berada berada dalam pipa kapiler telah terpisah antara sel darah dan plasma darah.

Penentuan nilai hematokrit dilakukan dengan mengisi tabung hematokrit dengan darah yang diberi zat agar dapat menggumpal, selanjutnya dilakukan sentrifusi sampai sel-sel menggumpal diatas bagian dasar kemudian dapat diketahui secara ataupun secara tidak langsung dari tabung-tabung tersebut, jika seseorang mempunyai nilai hematokrit 40 artinya 40% dari volume darah adalah sel-sel darah. Jumlah hematokrit pada laki-laki normal adalah 42, sedangkan untuk wanita normalnya adalah 38, nilai hematokrit pada domba adalah 32, anjing 45, sapi 40 dan pada babi, kuda adalah 42.

Anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin, dan volume pada sel darah merah (hematokrit) per 100 ml darah. Dengan demikian, anemia bukan suatu diagnosis melainkan pencerminan dari dasar perubahan patofisiologis, yang diuraikan oleh anamnesa dan pemikiran fisik yang teliti, hemokonsentrasi adalah kebalikan dari anemia yang berarti bahwa rasio sel-sel darah merah terhadap cairan berada diatas normal yang merupakan sel yang paling banyak dibandingkan dengan 2 sel lainnya, dalam keadaan normal mencapai hampir separuh dari volume darah. Sel darah merah mengandung hemoglobin, yang memungkinkan sel darah merah membawa oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh jaringan tubuh. Oksigen dipakai untuk membentuk energi bagi sel-sel, dengan bahan limbah berupa karbon dioksida, yang akan diangkut oleh sel darah merah dari jaringan dan kembali ke paru-paru.

Hemokonsentrasi adalah kebalikan anemia yang berarti bahwa rasio sel-sel darah merah terhadap cairan di atas normal. Hal ini ditunjukkan oleh hitungan sel darah merah yang sangat tinggi atau nilai hematokritnya yang tinggi. Jumlah sel-sel darah merah dalam tubuh dapat meningkat (suatu keadaan yang disebut polisit polisiternia), atau banyaknya cairan yang justru menurun.

Untuk memperbaiki keadaan dehidrasi diperlukan suplai air kepada hewan yang bersangkutan dalam bentuk larutan garam fisiologi atau larutan glukose secara parental. Ini berarti bahwa larutan tersebut diberikan melalui jalur selain mulut, karena hewan yang sedang muntah apabila diberi minum akan terangsang untuk muntah lagi. Larutan tadi dapat disuntikkan hipodermis atau dengan cara intro peritoneal.

Hematokrit sejatinya merupakan ukuran yang menentukan seberapa banyak jumlah sel darah merah dalam satu mililiter darah atau dengan kata lain perbandingan antara sel darah merah dengan komponen darah yang lain. Hematokrit dapat dihitung dengan mengambil sampel darah pada jari tangan atau diambil langsung pada vena yang terletak pada lengan. Sel darah merah yang terdapat dalam sampel kemudian diendapkan dengan cara memutarnya menggunakan alat sentrifugal. Endapan ini kemudian di presentasekan dengan jumlah keseluruhan dari darah yang terdapat dalam tabung, nilai inilah yang dinamakan nilai hematokrit.

Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai hematokrit adalah jenis kelamin, spesies, jumlah sel drah merah, aktivitas dan keadaan patologis. Jumlah sel darah merah pada pria lebih banyak jika dibandingkan dengan wanita, apabila jumlah sel darah merah meningkat atau banyak maka jumlah nilai hematokrit juga akan mengalami peningkatan. Selain itu, ketinggian tempat juga mempengaruhi nilai hematokrit, karena pada tempat yang tinggi seperti pegunungan kadar oksigen dalam udara berkurang sehingga oksigen yang masuk ke dalam paru-paru berkurang, oleh karena itu supaya terjadi keseimbangan maka sumsum tulang belakang memproduksi sel-sel darah merah dalam jumlah yang banyak.

Hitungan sel darah merah yang sangat tinggi atau nilai hematokritnya yang tinggi, jumlah sel-sel darah yang ada dalam tubuh dapat meningkat (suatu keadaan yang disebut polisiternia), atau banyaknya cairan yang justru menurun baik karena penurunan jumlah air yang diminum ataupun naiknya air yang hilang dari tubuh yang dapat menyebabkan munculnya hemokonsentrasi, yang berarti akibat dari keadaan yang disebut dehidrasi.

Penentuan nilai hematokrit dilakukan dengan mengisi tabung hematokrit dengan darah yang diberi zat agar dapat menggumpal, selanjutnya dilakukan sentrifusi sampai sel-sel menggumpal diatas bagian dasar kemudian dapat diketahui secara ataupun secara tidak langsung dari tabung-tabung tersebut. Jika seseorang mempunyai nilai hematokrit 40 artinya 40% dari volume darah adalah sel-sel darah. Jumlah hematokrit pada laki-laki normal adalah 42, sedangkan untuk wanita normalnya adalah 38, nilai hematokrit pada domba adalah 32, anjing 45, sapi 40 dan pada babi, kuda adalah 42.

Dalam menghitung nilai hematokrit terdapat dua cara yaitu cara Wintrobe dan mikro-hematokrit. Metode untuk mengukur nilai hematokrit terdiri dari dua cara yaitu dengan cara Wintrobe dan mikro-hematokrit, cara wintrobe menggunakan zat antikoagulan tabung wintrobe dan centrifuge, sedangakan pada cara mikro-hematokrit memekai tabung atau pipa kapiler, tabung centrifuge khusus dengan kecepatan putaran lebih dari 10.000 rpm dan pembacaan nilai hematokrit digunakan pula nilai yang khusus.

Berat Jenis Darah

Berat Jenis Darah

Berat Jenis Darah
Gravitasi suatu jenis zat adalah indeksi atau ratio berat zat tersebut dibandingkan dengan berat jenis air yang volumenya sama dengan zat yang disebut tadi, suatu zat yang beratnya kurang dari berat jenis air volumenya dan akan mempunyai gravitasi jenis kureang dari 1,00 apabila beratnya lebih, maka gravitasinya juga lebih dari 1,00. Pengukuran gravitasi jenis ini biasanya dilakukan dengan mewujudkan hidrometer. Hidrometer yang digunakan untuk mengukur gravitasi jenis cairan seperti dalam pengujian untuk pengetesan aki atau baterai, muatan zat anti radiator mobil.

Darah memiliki gravitasi jenis sedikit tinggi kandungan airnya terutama disebabkan oleh adanya sel-sel darah merah dan sel darah putih. Kedua jenis darah ini mamiliki berat jenis yang bervariasi antara spesies yang satu dengan yang lainnya. Pada hewan domba 1,042, sapi 1,043, anjing dan manusia 1,059 sedangkan pada babi dan kuda memiliki berat jenis darah sebesar 1,060.

Berat jenis darah bervariasi dari 1,03e0-1,060 sedangkan berat jenis plasma bervariasi dari 1,024-1,028, darah terdiri dari dua bagian, yaitu sel-sel darah merah (butiran-butiran)dan cairan darah (plasma darah).

Cara menentukan berat jenis darah dilakukan dengan cara kimia dengan menggunakan CuSO4 dengan bera jenis yang bermacam-macam kemudian meneteskan darah yang hendak diperiksa ke dalam masing-masing larutan CuSO4, dan didapat hasil bila berat jenis darah sama dengan berat jenis CuSO4 yang lebih besar ia akan mengapung tepat dibawah permukaan. Perbedaan sebesar 0,0005 sudah diangkap signifikan dan akurat. Bila berat jenis CuSO4 sama dengan berat jenis darah maka ia akan tetap berada dibawah permukaan bila berat jenis CuSO4 yang lebih besar ia akan menggembang di permukaan. Berat jenis normal yaitu 1,059 (1,059-1,060) merupakan berat jenis hematokrit dan 1,005 merupakan berat jenis homodilusi.

Darah merupakan cairan tubuh yang terdapat dalam jantung dan pembuluh darah. Beberapa cairan tubuh yang lain adalah cairan jaringan. Berat jenis darah bervariasi dari 1,054-1,060. Sedangkan berat jenis darah plasma dari 1,024-1,028.

Untuk menentukan berat jenis darah, dapat juga dilakukan dengan tiga jenis cara yaitu dengan menggunakan pinometer, cara philips, dan dengan cara kammerachlac. Cara niknometer yaitu piknometer diisi dengan darah lalu ditimbang dari hasil-hasil timbangan tersebut dapat ditentuksn berat jenisnya dengan menggunakan larutan CuSO4 standar (yang lebih diketahui nilai BJ-nya) cara kammerachlag yaitu dengn menggunakan campuran benzol yang telah diketahui dengan menggunakan kloroform.

Berat jenis adarah adalah 1,04-2,05. Tekanan osmosis tergantung pada konsentrasi protein plasma dan viskositas atau kekentalan darah sebagai cairan suspensi. Derajat kesamaan (ph) berkisar antara 7-8, mempunyai sistem buffer melalui ion CO2, NH3, dan H+. Darah mengandung sekitar 80% air dan 20% bahan organik, sementara bahan organiknya sekitar 1%. Warnah darah bervariasi sesuai dengan kandungan oksigen. Darah arteri kaya oksigen dan mempunyai massa jenis antara 7,35-7,45 sedikit berada di daerah yang memiliki basa netral.

Darah pemeriksaan laboratorium beberapa ha lyang harus diperhatikan yaitu :
- Berat jenis dengan batas normal 11,001-1,035.
- Alat yang digunakan dalam jumlah banyak darah yang akan digunakan
- Darah normal yang diletakkan atau diteteskan pada larutan CuSO4 0,5% yang berat jenisnya 1,051.

Gravitasi atau berat jenis darah merupakan suatu indeks terhadap suatu tatapan pada suatu zat tertentu dan memiliki variasi yang berbeda tergantung pada jenis individu atau makhluk hidup. Gravitas jenis suatu zat merupakan rasio berat suatu zat dibanding dengan berat jenis air. Suatu zat yang beratnya kurang dari berat jenis air dan memiliki volume sama, akan tetapi mamiliki gravitasi yang sama juga. Pengukuran gravitas jenis ini biasanya menggunakan hidrometer. Darah memiliki gravitasi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan air.

Dalam proses pengukuran berat jenis dapat diketahui terdapat dua macam cara yakni cara kimia dan philips. Cara menentukan berat jenis darah dapat dilakukan dengan cara kimia dengan menggunakan CuSo4 dengan berat jenis yang bermacam-macam kemudian meneteskan darah yang hendak diperiksa ke dalam masing-masing larutan CuSo4, maka ia akan mengapung tepat dibawah permukaan. Perbedaan sebesar 0,0005 yang sudah dianggap signifikasi dan akurat. Bila berat jenis CuSO4 yang sudah didapat sama dengan berat jenis darah maka ia akan tepat berada dibawah permukaan. Berat jenis CuSO4 yang lebih besar ia akan mengembang ke permukaan. Untuk menentukan berat jenis darah juga dapat digunakan piknometer yaitu dengan cara piknometer diisi dengan menggunakan darah lalu ditimbang, dari hasil-hasil timbang tersebut dapat ditentukan berat jenisnya dengan menggunakan larutan CuSO4 standar.

Hemolisa Darah dan Krenasi

Hemolisa Darah dan Krenasi

Hemolisa Darah dan Krenasi
Hemolisa adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin besar di dalam medium dapat bebas dan berada di sekelilingnya. Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh penambahan larutan hipotonis, hipertonis ke dalam aliran darah. Penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan akan menyebabkan rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dan lain-lain. Apabila medium disekitar wajah atau permukaan eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl), maka medium tersebut akan masuk kedalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermeabel dan dapat berakibat sel eritrosit mengembang. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel itu akan pecah dan akibatnya hemoglobin akan bebas melalui sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosit akan menuju keluar eritrosit, akibatnya eritrosit akan keriput atau krenasi. Keriput ini dapat dikembalikkan dengan cara menambahkan cairan isotonis.

Bila sel dimasukkan kedalam suatu larutan tanpa menyebabkan sel membengkak atau mengkerut disebut larutan isotonis, oleh karena tidak terjadi perubahan osmosis, yang terjadi hanyalah meningkatnya volume cairan ekstrasel. Larutan NaCl 0,9% atau dextrose 5% merupakan contoh larutan isotonis. Larutan isotonis mempunyai arti klinik yang penting karena dapat diinfuskan kedalam darah tanpa menimbulkan gangguan keseimbangan osmosis antara cairan ekstrasel dan intrasel.

Larutan yang bila sel dimasukkan kedalamnya akan menyebabkan sel menjadi bengkak disebut larutan hipotonis, oleh karena osmolaritas cairan ekstrasel akan berkurang, dan cairan ekstrasel akan masuk kedalam sel. Larutan NaCl yang konsentrasinya kurang dari 0,9% disebut larutan hipotonis.
Hemolisa Darah dan Krenasi

Larutan hipertonis merupakan larutan yang bila sel dimasukkan kedalamnya akan menyebabkan sel menjadi mengkerut oleh karena osmolalitas cairan ekstrasel akan meningkat dan menyebabkan osmosis air keluar dari sel menuju ke cairan ekstrasel. Larutan NaCl yang konsentrasinya lebih dari 0,9% merupakan larutan hipertonis.

Berbagai jenis cairan didalam klinik sering diberikan secara intravena untuk memenuhi kebutuhan nutrisi penderita yang tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi penderita yang tidak dapat memenuhi kebutuhannya secara oral. Yang sering digunakan dalah larutan glukose dan asam amino. Bila larutan ini diberikan, konsentrasi dari bahan-bahan yang aktif secara osmotic akan diusahakan untuk mendekati isotonis, tau diberikan secara perlahan-lahan sehingga tidak terganggu keseimbangan osmotic cairan tubuh. Namun, setelah glukose atau asam amino dimetabolisme akan terjadi kelebihan air. Dalam hal ini, ginjal akan mengekskresi kelebihan air tersebut dalam bentuk urine yang encer.

Krenasi adalah kontraksi atau pembentukan nokta tidak normal di sekitar pinggir sel setelah dimasukkan ke dalam larutan hipertonik karena kehilangan air melalui osmosis. Secara etimologi krenasi berasal dari bahasa yunani yakni “Crenatus”. Krenasi terjadi karena lingkungan hipertonik (sel memiliki larutan dengan konsentrasi yang lebih rendah dibandingkan larutan disekitar luar sel. Osmosis menyebabkan pergerakan air keluar dari sel yang dapat menyebabkan sitoplasma berkurang volumenya, sebagai akibat sel mengecil atau mengkerut.

Pada manusia yang sehat derajat hemolisa darahnya dapat disebabkan oleh kinain pada konsentrasi 10-9m dengan level darah 5 x 10-5. Hal ini mungkin juga berlaku bagi darah penderita malaria. Pada konsentrasi 10-6 metabolik kinin menimbulkan derajat hemolisis yang lebih tinggi daripada kinin dengan konsentrasi 10-2.

Krenasi adalah proses pengkerutan sel darah akibat adanya larutan hipotonis dan hipertonis. Faktor penyebab krenasi yaitu adanya peristiwa osmosis yang menyebabkan adanya pergerakan air dalam sel sehingga ukuran sel menjadi berkurang atau mengecil. Proses yang sama juga terjadi pada tumbuhan yaitu plasmolisis dimana sel tumbuhan juga mengecil karena dimasukkan dalam larutan hipertonik. Krenasi ini dapat dikembalikkan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit.

Hemolisis adalah pemecahan sel-sel darah sedemikian rupa sehingga terlepas dalam plasma. Hal ini disebabkan oleh toksis bakteri, bias ular, dan parasit darah serta zat-zat lainnya. Hemoglobin yang berada didalam plasma memberikan warna merah dan keadaan tersebut dinamakan hemoglobinemia. Apabila hemoglobin dieksresikan di dalam urine, keadaan ini disebut hemoglobinuria.

Penghancuran sel-sel darah merah terjadi setelah mengalami tiga sampai empat bulan. Sel-sel darah merah mengalami disintegrasi, melepaskan Hb ke dalam darah dan debris sel yang rusak itu disisihkan dari sirkulasi oleh system makrofag yang terdiri dari sel-sel khusus di dalam hati, limpa, sum-sum tulang dan nod limfa. Sel-sel makrofag ini melakukan fagositosis debris. Fragmennya dicerna dan dilepaskan ke dalam darah. Unsur protein globin dari hemoglobin mengalami degradasi menjadi asam amino.

Laju Endap Darah (LED)

Laju Endap Darah

Pengertian Laju Endap Darah (LED)
Laju Endap Darah (LED) atau dalam bahasa Inggrisnya Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) merupakan salah satu pemeriksaan rutin untuk darah. Proses pemeriksaan sedimentasi (pengendapan) darah ini diukur dengan memasukkan darah kita ke dalam tabung khusus selama satu jam. Makin banyak sel darah merah yang mengendap maka makin tinggi Laju Endap Darah (LED)-nya. Tinggi ringannya nilai pada Laju Endap Darah (LED) memang sangat dipengaruhi oleh keadaan tubuh kita, terutama saat terjadi radang. Namun ternyata orang yang anemia, dalam kehamilan dan para lansia pun memiliki nilai Laju Endap Darah yang tinggi. Jadi orang normal pun bisa memiliki Laju Endap Darah tinggi, dan sebaliknya bila Laju Endap Darah normalpun belum tentu tidak ada masalah. Jadi pemeriksaan Laju Endap Darah masih termasuk pemeriksaan penunjang, yang mendukung pemeriksaan fisik dan anamnesis dari sang dokter. Namun biasanya dokter langsung akan melakukan pemeriksaan tambahan lain, bila nilai Laju Endap Darah di atas normal. Sehingga mereka tahu apa yang mengakibatkan nilai Laju Endap Darahnya tinggi. Selain untuk pemeriksaan rutin, Laju Endap Darah pun bisa dipergunakan untuk mengecek perkembangan dari suatu penyakit yang dirawat. Bila Laju Endap Darah makin menurun berarti perawatan berlangsung cukup baik, dalam arti lain pengobatan yang diberikan bekerja dengan baik.

Laju Endap Darah (LED) terutama mencerminkan perubahan protein plasma yang terjadi pada infeksi akut maupun kronik, proses degenerasi dan penyakit limfoproliferatif. Peningkatan laju endap darah merupakan respons yang tidak spesifik terhadap kerusakan jaringan dan merupakan petunjuk adanya penyakit.

Bila dilakukan secara berulang laju endap darah dapat dipakai untuk menilai perjalanan penyakit seperti tuberkulosis, demam rematik, artritis dan nefritis. Laju Endap Darah (LED) yang cepat menunjukkan suatu lesi yang aktif, peningkatan Laju Endap Darah (LED) dibandingkan sebelumnya menunjukkan proses yang meluas, sedangkan Laju Endap Darah (LED) yang menurun dibandingkan sebelumnya menunjukkan suatu perbaikan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi Laju Endap Darah (LED) adalah faktor eritrosit, faktor plasma dan faktor teknik. Jumlah eritrosit/ul darah yang kurang dari normal, ukuran eritrosit yang lebih besar dari normal dan eritrosit yang mudah beraglutinasi akan menyebabkan Laju Endap Darah (LED) cepat. Walaupun demikian, tidak semua anemia disertai Laju Endap Darah (LED) yang cepat. Pada anemia sel sabit, akantositosis, sferositosis serta poikilositosis berat, laju endap darah tidak cepat, karena pada keadaan-keadaan ini pembentukan rouleaux sukar terjadi. Pada polisitemia dimana jumlah eritrosit/µl darah meningkat, Laju Endap Darah (LED) normal.

Pembentukan rouleaux tergantung dari komposisi protein plasma. Peningkatan kadar fibrinogen dan globulin mempermudah pembentukan roleaux sehingga Laju Endap Darah (LED) cepat sedangkan kadar albumin yang tinggi menyebabkan Laju Endap Darah (LED) lambat. Yang perlu diperhatikan adalah faktor teknik yang dapat menyebabkan kesalahan dalam pemeriksaan Laju Endap Darah (LED). Selama pemeriksaan tabung atau pipet harus tegak lurus; miring dapat menimbulkan kesalahan 30%. Tabung atau pipet tidak boleh digoyang atau bergetar, karena ini akan mempercepat pengendapan. Suhu optimum selama pemeriksaan adalah 20°C, suhu yang tinggi akan mempercepat pengendapan dan sebaliknya suhu yang rendah akan memperlambat. Bila darah yang diperiksa sudah membeku sebagian hasil pemeriksaan laju endap darah akan lebih lambat karena sebagian fibrinogen sudah terpakai dalam pembekuan. Pemeriksaan laju endap darah harus dikerjakan dalam waktu 2 jam setelah pengambilan darah, karena darah yang dibiarkan terlalu lama akan berbentuk sferik sehingga sukar membentuk rouleaux dan hasil pemeriksaan laju endap darah menjadi lebih lambat.

Faktor yang Mempengaruhi Laju Endap Darah (LED)
Laju Endap Darah (LED) dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal contohnya adalah cara meletakkan tabung di atas meja, tempertaur/suhu ruangan, getaran/guncanangan terhadap tabung, sedangkan faktor internalnya adalah seperti globulin dan fibrinogen. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemeriksaan Laju Endap Darah yaitu faktor teknik seperti letak tabung/pipet, diameter tabung/pipet, suhu ruangan dan getaran sedangkan faktor kedua adalah faktor dalam darah itu sendiri yakni fibrinogen, eritrosit, dan globulin.

Kegunaan Laju Endap Darah (LED)
Laju Endap Darah (LED) seringkali digunakan pada pemeriksaan penyakit. LED berguna memantau penyakit kronik tertentu. LED yang normal tidak menyimpulkan bahwa seseorang tidak mengidap suatu penyakit, di pihak lain peninggian LED mendorong kita untuk memikirkan penyakit-penyakit yang ada kaitannya dengan perubahan dalam protein plasma. LED normal pada manusia khususnya pada pria 9 mm/1 jam dan pada wanita 15 mm/1 jam. Pada kambing sebesar 2,5 menit, pada sapi 6,5 menit, pada ayam 4,5 menit dan pada kuda sebesar 11,5 menit.

Popular Posts

Powered by Blogger.